Judulnya mengingatkan kita pada siaran TVRI puluhan tahun yang lalu, bahkan sebelum saya lahir (Lah koq tau? Ya dari YouTube lah). Tetapi, judul ini saya buat karena saya tidak sempat malas membuat posting yang menarik selama pekan terakhir liburan ini. Tapi, berhubung banyak yang ingin disampaikan. Saya buat dan saya rangkum semuanya dalam satu posting.
- Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009
Menurut guru SD saya, gerhana matahari selalu terjadi pada bulan mati (awal bulan sideris seperti pada kalender Imlek dan Hijriyah). Dan tanggal 26 Januari 2009 adalah Tahun Baru Imlek (tanggal 1 bulan 1, fase bulan baru/mati). Gerhana matahari terjadi karena tertutupnya Matahari oleh Bulan. Orang-orang pada zaman dahulu mungkin menganggap peristiwa ini menakutkan. Maklum, karena tiba-tiba di hari yang cerah langit menjadi gelap gulita selama beberapa saat. Hal ini pun menimbulkan berbagai mitos, salah satunya adalah harus bersembunyi saat terjadi gerhana. Sebenarnya, peristiwa ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Ini berkat adanya ilmu astronomi. Ketika Matahari, Bulan, dan Bumi (secara berturut-turut) berada pada satu garis lurus, maka ada satu tempat di Bumi yang penyinaran Mataharinya tertutup Bulan; hal inilah yang menimbulkan gerhana. Berkat adanya ilmu astronomi ini pulalah, peristiwa gerhana dapat diramal (baca: diperhitungkan).
Gambar 1: Terjadinya gerhana matahari total maupun cincin. Sumber: http://upload.wikimedia.org/
Mengenai mitos harus bersembunyi ketika terjadi gerhana, hal ini dapat dijelaskan dengan pendekatan ilmu fisika dan kesehatan. Sering diingatkan sekarang ini, bahwa melihat gerhana matahari secara langsung dapat merusak mata, bahkan berakibat kebutaan, gerhana dapat dilihat melalui klise film berlapis-lapis, kacamata hitam khusus (kacamata hitam biasa sebenarnya tidak disarankan), kacamata las, atau dapat melihat secara tidak langsung menggunakan kertas atau baskom air. Pada zaman dahulu, tak banyak orang yang mengetahui cara-cara ini. Sehingga, untuk "mengamankan" anak-anak, mungkin para orang tua mempunyai cara menakut-nakuti anak-anak agar tidak keluar rumah dan bersembunyi bila terjadi gerhana. Bentuk cincin pada gerhana kali ini terjadi akibat ukuran Bulan yang nampak lebih kecil daripada ukuran Matahari. Di tempat-tempat tertentu, gerhana matahari cincin dapat terlihat, sementara di tempat lainnya, gerhana matahari hanya terlihat sebagai gerhana matahari sebagian (Matahari terlihat berbentuk sabit)
Nah, sekarang, bagaimana dengan gerhana matahari kali ini? Kebetulan gerhana dapat dilihat dari seluruh wilayah Indonesia. Provinsi-provinsi yang terkena gerhana matahari cincin (menurut peta yang saya baca) adalah Banten, Lampung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Sementara itu, tempat-tempat lainnya, seperti DKI Jakarta, Bandung, dan Bogor (tempat saya menghabiskan waktu liburan kali ini) hanya dapat melihat gerhana matahari sebagian. Tak masalah, karena gerhana matahari sebagian juga menarik untuk dilihat (btw, saya sudah menyiapkan kacamata hitam minus [dua lapis: satu lapis hitam, satu lapis gelap parsial]; di TMII, Jakarta, orang-orang ramai melihat gerhana dengan teropong khusus dari PP-Iptek). Sayangnya, karena sekarang ini musim hujan, sulit untuk melihat peristiwa gerhana di langit. Oleh karena itu, ya cara lain ditempuh, antara lain dengan melalui streaming internet dan YM sambil bolak-balik keluar-masuk kamar liat langit. Mengapa YM? Karena, kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang di daerah lain berkilometer-kilometer jauhnya, sehingga dapat bertukar informasi mengenai gerhana. Benar saja, pas buka YM pukul 16-an (puncak gerhana dilaporkan akan terjadi kira-kira pk 16.42 WIB), banyak yang status message-nya mengeluhkan awan mendung, menunggu gerhana, dsb. Kebetulan teman saya, Fanny (EL'07), yang saat itu berada di Pontianak, sedang OL, tetapi dia mengatakan bahwa yang dia dengar, gerhana itu jam 15-an dan tidak sempat melihat karena hujan di sana. Langsung saya kasi tau aja gerhananya tuh masih jam 16.42. Tapi setelah saya kembali ke laptop (di rumah, saya pake laptop ortu), rencananya mau ngobrol lagi dengan Fanny, dia sudah off. Ya sudah, nanti saja kalau bertemu lagi, pikir saya.
Kira-kira 16.45, saya mencoba melihat di langit, memang banyak awan, tetapi mataharinya terlihat. Nah, waktu itu, ada awan bergerak menutupi matahari, kemudian bergerak pergi. Saya melihat, ketika awan itu pergi, rasanya matahari bentuknya jadi aneh, seperti terhalang awan hitam berbentuk batu. Saya jadi ragu, apa itu bulannya. Ternyata, begitu saya cocokkan di TV, benar bentuk matahari saat gerhana menjadi seperti itu. Wah, ternyata berhasil juga ya melihat gerhana.
- Coklat putih, bika ambon, dan martabak mesir
Waktu saya menonton TV, ada iklan susu balita yang isinya ada anak kecil bertanya, "Koq coklat putih?", kemudian juga, ''Katanya dari Medan, koq oleh-olehnya bika ambon, kan beda kota?"
Oleh iklan tersebut, anak ini dikatakan cerdas. Akan tetapi, yang ada di pikiran saya waktu itu adalah, "Nih anak freak banget sih. Kecilnya udah kayak gini, ntar gedenya kayak gimana ya?" Hm, saya akhirnya menyesal telah berpikir seperti itu. Bagaimanapun, anak ini memiliki keingintahuan yang besar dan positif. Ibarat pepatah, "Malu bertanya sesat di jalan". Inilah yang saya alami. Ceritanya, dulu, waktu makan di restoran masakan Padang, saya pernah melihat tulisan "Martabak Mesir". Saya waktu itu masih kelas 3 SD dan saya pikir itu benar-benar makanan khas Mesir. Akan tetapi, ketika saya sedang berbincang-bincang di unit saya, KSEP, baru saya tahu bahwa martabak mesir itu asli Sumatera Barat. Hoho, pantes adanya di restoran Padang. Asumsi salah ini terjadi selama bertahun-tahun hanya karena malas bertanya.
Sekarang, mimpi terakhir minggu ini:
Minggu, 1 Februari 2009, saya berangkat ke Bandung. Semalam sebelumnya, saya bermimpi aneh. Begini ceritanya, saya seperti sedang berada di masa lalu (berkunjung dengan mesin waktu dan tidak memikirkan kapan dan bagaimana kembali ke masa sekarang). Setting-nya di Gerbang Ganesha, kampus ITB. Saat itu, ada sekumpulan mahasiswa berwajah tegang, berbaris rapi, pakaiannya tidak seragam, bahkan terkesan acakadut, dipimpin oleh sekitar tiga orang mahasiswa berjaket almamater yang berteriak-teriak a la danlap. Mereka sepertinya sedang demonstrasi atau mempersiapkan demonstrasi (yang jelas bukan kaderisasi). Ngeri juga ya, tetapi waktu itu saya berpikir, mereka tidak dapat berinteraksi dengan saya. Menurut ingatan saya dalam mimpi, waktu yang saya lihat itu adalah pada masa pemberontakan Tiananmen (Woh, kenapa demonstrasi di Tiananmen, tapi yang heboh di ITB? Namanya juga mimpi). Waktu itu, karena suasana semakin mencekam, saya akhirnya bersembunyi di dekat deret ATM. Entah bagaimana, saya jatuh kemudian ada dosen IF, wanita, dosen wali 2007 tetapi bukan wali saya, sebut saja namanya Ibu A, juga satu teman saya (kalau tidak salah; saya lupa siapa). Ibu A kemudian bercakap-cakap dengan saya, bercerita tentang peristiwa ini, saya sendiri lupa apa isi ceritanya. Lalu saya tanya, "Mungkin di masa ini saya masih kecil ya, Bu? Ini tahun berapa sih?"
Ibu A menjawab, "Ini terjadi sekitar awal 1989."
Saya pun membalas, "Wah, waktu ini berarti saya belum lahir, Bu. Ngomong2 bagaimana sih bisa jadi mesin waktu seperti ini?"
Sejak kapan dosen IF bisa menjelaskan mesin waktu, pikir saya. Bukan menghina, tetapi kan bukan bidangnya, pikir saya juga. Namanya juga mimpi. Ibu A menjawab, "Prinsipnya sederhana, ini memanfaatkan molekul air yang kutub-kutubnya saling memisah."
Ah, tambah gak masuk akal aja deh (Namanya juga mimpi). Tapi, di sini pas saya lagi mendengar penjelasan Ibu A, Ibu A-nya keburu menghilang (gak kerasa ajaib kalo di mimpi), lalu scene mimpi pun berganti-ganti semakin tidak jelas, sehingga sulit diingat.
Yang saya ingat, akhirnya scene beralih menjadi di gedung sekolah yang sudah agak tua, seperti sekolah saya ketika kelas 1 SMP dulu, di ruang kelas. Yang saya masih ingat, waktu itu ada Ivan Ibnualim (STI 2007) keluar ruangan, ditanyain sama orang di ambang pintu. Lalu di dalam ruangan ada Ketua KSEP dan satu orang lagi, saya lupa siapa, tetapi saya kenal (kenal di mimpi belum tentu besok masih ingat loh). Waktu itu sedang membicarakan suatu tempat, kalau tidak salah namanya Surya Sari (lupa tempat apa, rasanya sih tempat makan; gak tau juga nulisnya benar atau tidak, dasar mimpi). Dan di mimpi saya jadi teringat bahwa dulu Fanny (masih orang yang sama yang tadi disebut di bagian gerhana) pernah berencana ke situ. Saya juga lupa untuk apa, tetapi waktu itu saya ingat belum sempat tanya Fanny soal itu. Ketua KSEP juga bilang bahwa untuk ke tempat itu, harus naik angkot jurusan Tumenggung - Tininjing (trayek nomor berapa nih? Tapi masih ingat saja sampai sekarang, aneh). Saya, dalam mimpi itu, juga ingat Fanny pernah bilang soal Tumenggung - Tininjing (Aneh memang, dalam mimpi kita bisa punya ingatan akan hal tertentu, padahal kita yakin, ketika terjaga, tidak pernah mendengar hal itu baik secara nyata atau dalam mimpi yang lalu). Kata Ketua KSEP, dari kampus (aneh lagi, kan lagi di gedung sekolah tua), angkotnya gak bisa langsung, harus naik dulu angkot lain (kalo gak salah sih Caringin, tapi gak tau apa Caringin - Sadang Serang. Lupa, namanya juga mimpi). Ketua KSEP juga bilang, kalo ke sana tuh jangan sendiri, soalnya jauh, bisa 30 menit naik Tumenggung - Tininjing. Pas saya tanya, Surya Sari itu di Tininjing apa bukan, Ketua KSEP bilang iya. Setelah itu, agak lupa juga, tetapi yang jelas saya terbangun. Balik lagi ke Bandung, kembali kuliah. Masuk semester IV. Tapi aneh, sampai sekarang masih ingat Tumenggung - Tininjing itu, di-search di Google tidak ada satu pun yang memuat kata "Tininjing", aneh. (Emang mimpi selalu aneh, tapi kenapa masih ingat ya?)
Karena bingung, saya tulis di sini.
"Tuhan, kuatkan saya dalam kebimbangan."
Sekian sari cerita sepekan dan mimpi terakhir minggu ini. Selamat malam. /* Gayanya TVRI banget, coba liat deh di layar tancap */